SITARO – Nama Desa Mini di Kecamatan Siau Barat Utara, Kabupaten Kepulauan Sitaro, ternyata menyimpan kisah sejarah yang lahir dari cerita leluhur. Dahulu kala, di kawasan yang kini dikenal sebagai Desa Mini terdapat sebuah dusun yang letaknya cukup jauh dari desa induk Lehi.
Di sepanjang pinggiran pantai dusun itu, terdapat kolam-kolam kecil di sela-sela batu dengan air bersuhu suam-suam, tidak panas dan tidak dingin. Dalam bahasa daerah, leluhur menamainya Ake Manini.
Kapitalau Desa Mini, Liston Serang, menjelaskan bahwa penyebutan Mini berasal dari kebiasaan leluhur ketika turun mandi di lokasi itu.
“Dahulu leluhur jika turun mandi ditanyakan, ‘Mau kemana?’ Jawabannya, ‘Mau turun mandi di Ake Manini.’ Lama-kelamaan, sebutannya berubah menjadi Mini,” ungkap Liston, (11/07/2025).
Selain asal-usul nama, leluhur Desa Mini juga memiliki tradisi spiritual yang dikenal dengan Menahulending Banua. Ritual ini merupakan bentuk permohonan kepada Yang Maha Esa agar diberikan hasil melimpah saat melaut atau berkebun.
“Ini merupakan ibadah leluhur kala itu. Bahkan, Menahulending Banua sekarang menjadi bagian dalam pesta adat Tulude,” tambah Liston.
Seiring perjalanan waktu, Mini akhirnya memisahkan diri dari desa induk Lehi. Pada tahun 2004, Mini resmi didefinitifkan menjadi desa tersendiri dengan Kapitalau pertama, Albert Manoi. Saat ini, Liston Serang tercatat sebagai Kapitalau ketiga.
Berdasarkan data terbaru, Desa Mini memiliki sekitar 154 kepala keluarga dengan jumlah penduduk 447 jiwa. Mata pencaharian warga masih didominasi oleh nelayan dan petani.
“Karena banyak warga yang mata pencahariannya nelayan, saya memiliki kerinduan Desa Mini bisa berkembang sebagai desa nelayan ke depannya,” tutur Liston.
Secara geografis, Desa Mini terletak diapit oleh Desa Lehi dan Desa Kinali, berjarak sekitar lima kilometer dari Kota Ondong, ibu kota Kabupaten Kepulauan Sitaro.
















